Kamis, 04 November 2010

Itawaka Juarai FestivalHawaianBand

Negeri Itawaka, Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, menjuarai lomba Hawaian Band yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Maluku dalam rangka memeriahkan Sail Banda dan Pesta Teluk Ambon Tahun 2010 yang berakhir Kamis (5/8) malam.“Grup dari Negeri Itawaka dinilai memiliki teknik dan kemampuan olah vokal terbaik, ditambah komposisi dan aransemen yang lebih menonjol,” kata Ketua Dewan Juri, Edgar de Lima, saat mengumumkan para pemenang. Dalam penampilan grup hawaian band Negeri Itawaka mendapat sambutan ribuan warga yang memenuhi areal Gong Perdamaian Dunia, yang dijadikan lokasi event tersebut.

Keberhasilan grup Itawaka ini merupakan yang kedua kali setelah pada pesta Teluk Ambon tahun 2009 mereka juga meraih juara pertama. Juara kedua lomba ini diraih grup hawaian band Titatomi dari Negeri Noloth, Pulau Saparua, sedangkan juara III diraih grup hawaian Bethabara, Kota Ambon, Harapan I grup Lawamena, Harapan II The Lady grup dan harapan III grup Akasia.

Lomba Hawaian band yang merupakan musik asli orang Maluku itu, menurut Ketua panitia Nus Nendisa, jumlah peserta tahun ini hanya enam grup, menurun dibanding tahun lalu yang diikuti 10 grup.“Musik hawaian semakin jarang dimainkan. Kalau pun ada hanya digemari kalangan generasi tua saja, sedangkan generasi muda jarang yang menggeluti dan menyukainya,”katanya. Staf Ahli Gubernur Maluku bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Azis Latar, saat menutup kegiatan itu, menegaskan, musik hawaian sebagai salah satu musik yang berkembang turun temurun di Maluku perlu dilestarikan dan diregenerasikan kepada kaum muda.

“Jangan hanya generasi tua yang menggelutinya, tetapi sudah saatnya diwariskan kepada generasi muda, sehingga tidak punah akibat derasnya arus globalisasi dan kemajuan seni budaya yang serba instan,” katanya.
Dia menandang lomba yang sudah digelar selama lima tahun terakhir dalam rangka Pesta teluk Ambon itu, perlu disosialisasikan terus menerus, sehingga jumlah peserta dari tahun ke tahun terus bertambah. “Lomba ini pun sebagai bentuk apresiasi dan upaya untuk melestarikan nilai-nilai seni budaya Maluku agar tidak punah dan tergusur akibat kemajuan pembangunan dan perkembangan globalisasi yang terus berkembang katanya.


Dia mengakui berbagai pranata sosial budaya masyarakat Maluku, termasuk musik hawaian perlu terus ditingkatkan pengembangannya, sehingga menjadi salah satu daya tarik pariwisata untuk menjaring arus kunjungan wisatawan di masa mendatang. Dia berharap keterlibatan berbagai komponen masyarakat untuk mengembangkan potensi seni budaya Maluku termasuk musih hawaian, sehingga tidak punah dan semakin dicintai semua lapisan masyarakat.

Lomba-lomba selain hawaian band, sejumlah perlombaan juga digelar dalam rangka memeriahkan Sail Banda dan Pesta Teluk Ambon tahun 2010, yakni Arumbae (perahu tradisional Maluku) Manggurebe, perahu semang wanita, renang estafet dan lomba mandcing tradisional. Lomba mancing tradisional dimenangkan  petrus Maulana dengan ikan tangkapan seberat 8,5 kilogram, juara kedua Pice Latupeirisa dengan tangkapan 2,1 kg, juara III Boby Pelasula (1,8 kg), diikuti harapan I, II, III masing-masing, Andre Nunumete (0,8 kg), Kasim Tubaka (0,75 kg) dan Jail Ayal dengan hasil tangkapan 0,7 kg.

Sedangkan lomba perahu semang wanita dimenangkan tim Syalom 2 dari kelurahan Batu Meja, diikuti tim Titasomi Negeri Noloth dan juara III tim Liliboy-3 dari dsa Liliboy, sedangkan harapan I tim Negeri Haria-4, dikkuti Negeri Alang-2 dan harapan III tim Liliboy-4. Lomba renang estafet dijuarai pasangan Purnomo-Arifuddin dari Lantamal A, Juara II Aswar-Yulianus (Denkav 1), dan juara III Fernando-Hendra van Harling dari Negeri Mahia, sedangkan harapan I, II dan III masing-masing pasangan made Putra-Michael Oratmangun, Gilang-Haikal dan Lukman-Saiful. 

Sedangkan di nomor lomba yang paling bergengsi dan menarik perhatian masyarakat yakni Arumbae Manggurebe dijuarai tim Negeri Noloth sekaligus mengalahkan saingan beratnya dari Negeri Porto, Pulau Saparua yang harus puas di posisi kedua dan Negeri Itawaka di posisi ketiga. Tim Noloth juga tercatat meraih juara pertama pada lomba serupa yang digelar 2009 lalu dalam rangka Pesta Teluk Ambon dan berhak atas piala bergilir Gubernur Maluku serta bonus Rp15 juta.

Pahlawan Yang Dilupakan


LEONARDUS WILLEM JOHANES WATTIMENA
(Jakarta, 3 Juli 1927 – Jakarta, 18 April 1976) adalah seorang perwira dan penerbang AURI yang terkenal di era 1950-1960-an.
PENDIDIKAN
  1. Sekolah Rakyat (1940)
  2. SMA (1950)
  3. Pendidikan Terbang Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TALOA), California, Amerika Serikat (1950)
  4. Pendidikan Instruktur di Royal Air Force (RAF), Inggris (1955)
KARIR
  1. Penerbang Skadron 3 Lanud Halim Perdanakusuma (1952)
  2. Pimpinan Armada Vampire Skadron Udara 11 Lanud Kemayoran (1957)
  3. Instruktur Sekolah Penerbang Lanjutan (SPL) Kalijati (1958)
  4. Wakil II Panglima Komando Mandala/Panglima AU Mandala (1958)
  5. Panglima Komando Operasi AURI (1963)
  6. Panglima Komando Pertahanan Udara (1966)Anggota MPRS (1966)
  7. Deputi Operasi Menteri/Panglima AUDuta besar RI di Italia (1969)
  8. Staf Ahli KSAU
PESWAT YANG PERNAH DITERBANGKAN
  1. L-4J Piper Cub
  2. P-51 Mustang
  3. de Havilland DH-115 Vampire
  4. MiG-17
  5. MiG-21
OPERASI TEMPUR
  1. Penumpasan Permesta (1958)
  2. Perebutan Irian Barat (1962)
CIRI KHAS TIAP KALI TERBANG
  1. 4x roll kiri pas airborne
  2. Cruising pake climb power
Leo Wattimena merupakan salah satu penerbang legendaris P-51D Mustang AURI, pesawat bermesin Packard Merlin V-1650-7 Piston V-12 Engine 1695 hp di tangan seorang Leo Wattimena bagaikan sebuah mainan!

Marsekal Muda (Purn) Leonardus Willem Johanes Wattimena lahir di Jakarta 3 Juli 1927. Ia adalah anak ke empat dari enam bersaudara pasangan dari (HL Wattimena dan UR) Wattimena. Ia bergabung dengan AURI pada usia 23 tahun di tahun 1950. Kemudian ia mendapat beasiswa sekolah terbang di TALOA Amerika Serikat, dan menjadi lulusan terbaik.

Fisik yang dimiliki seorang Leo Wattimena memang sangat ideal bagi seorang penerbang tempur : leher pendek, kekar, dan bertubuh gempal, dengan postur seperti ini biasanya tahan dan mampu berhadapan dengan gaya G yang tinggi.

Leo Wattimena sering melakukan hal-hal yang dianggap kelewat batas dengan P51D Mustangnya, tak heran, ia pun akhirnya banyak mendapat gelar, seperti “Penerbang Gila”, “G-Maniac”, atau “Pilot Luar Biasa". Banyak sekali atraksi “Ugal-Ugalan” yang sering di lakukan beliau, seperti melakukan Roll di ketinggian yang masih rendah, pernah juga ia melewati bagian bawah jembatan Ampera di Palembang dengan mustangnya, terkadang ia juga bermain-main dengan mustangnya dengan melewati dua buah tiang atau gedung!!! Namun, ia tidak melakukan kegiatan “ugal-ugalan” itu secara sembrono, semuanya ia lakukan dengan latihan dan perhitungan yang amat sangat matang. Seorang penerbang Mustang pernah mencoba gaya terbang “ugal-ugalan” macam beliau itu, namun sang penerbang itu diperingatkan oleh Pak Roesmin Noerjadin (yang juga salah satu legenda P-51D Mustang) agar jangan meniru “orang Gila” itu jika ingin jadi penerbang tempur!. Malang menimpa Penerbang Mustang Letnan I Udara Subagyo, lantaran ia meniru gaya “ugal-ugalan” Leo Wattimena ini, ia pun gugur di lanud Husein Sastranegara Bandung, pesawat Mustang yang di terbangi nya crash dan hancur berantakan di landasan….

Leo Wattimena juga dikenal sebagai orang yang keras dan tempramental, banyak murid penerbang yang ketakutan saat ia menjadi instruktur, hukuman yang diberikan oleh Leo kepada siswanya tidak sekedar push up, cabut bulu kaki atau lainnya, melainkan hukuman nya adalah ikut terbang “ugal-ugalan” bersamanya dan di jungkir balikkan sampai semaput!. Berbagai operasi militer pernah dipimpin oleh Leo Wattimena diantaranya Operasi Nunusaku menumpas PERMESTA pada 15 Mei 1958, Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, DI/TII, Dwikora dan Trikora.


Puncak karir Leo Wattimena sebagai perwira operasi terjadi pada tahun 1961, saat itu ia dipercaya sebagai Wakil Panglima Operasi II Operasi Pembebasan Irian Barat.

Leo Wattimena berhenti dari dinas AURI pada tahun 1971 setelah sebelumnya juga menduduki jabatan sebagai anggota MPRS pada tahun 1966, Panglima Komando Pertahanan Udara pada tahun 1966, Panglima Komandu Operasi Auri pada tahun 1963 hingga Deputi Operasi Menteri/Panglima Angkatan Udara.

Setelah ia pensiun, Leo sempat bekerja di sebuah perusahaan kabel, hingga pada suatu saat ia bertemu dengan KASAU Marsekal (Purn) Ashadi Tjahjadi dan memintanya menjadi Penasihat Ahli KASAU. Namun penyakit asma yang mulai dideritanya membuat kondisi kesehatan fisik Leo yang gagah tersebut berangsur menurun. Tubuh ideal penerbang tempur yang dimiliknya lama kelamaan semakin kurus dan hingga akhirnya harus betul2 di topang oleh tongkat.

Leonardus Willem Johanes Wattimena akhirnya meninggal dunia pada 18 April 1976 dan dimakamkan lengkap dengan pakaian penerbang AURI dan dimakamkan berdampingan dengan salah satu legenda mustang lainnya, Komodor Udara (Purn) Ignatius Dewanto di taman makam pahlawan Kalibata, Jakarta. Pesawat P-51D Mustang reigtrasi F-303 yang biasa di terbangkan oleh si “Penerbang Gila” ini kini menjadi monumen di depan pintu masuk Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma.

Tragedi 18 April 1966

Negari  Itawaka adalah salah satu negeri yang berada di Kecamatan Saparua paling ujung Jazirah Hatawano.  Negeri Itawaka adalah negeri yang kaya akan Sumber Daya Alam dengan Hutannya maupun Laut dengan Terumbu Karang dan Ikannya. Negeri Itawaka adalah negeri yang cukup strategis yaitu ujung paling Timur pulau Saparua yang pada tahun 1966 dipimpin oleh Wakil Negeri (Welem Syaranamual) sebagai pimpinan Negeri dan (Pdt F Latumahina) sebagai pimpinan Jemaat Itawaka. Pada tanggal 18 April tahun 1966 merupakan suatu peristiwa yang pastinya diingat orang Itawaka (umur 45-lansia).

Bermula dari peristiwa yang dilakukan oleh beberapa oknum TNI (S dan N) dan dua anggota masyarakat LA IM dan CORNELES…… yang dilakukan di dalam Labuan/areal petuanan Laut desa Itawaka. Kejadian ini tidak akan pernah terjadi, jikalau Oknum TNI dan pengikutnya tidak melakukan PEMBOMAN IKAN. Menurut penuturan cerita orang tua-tua saat itu masyarakat sempat melarang untuk tidak melakukan PEMBOMAN IKAN, namun salah satu Oknum TNI tersebut sempat menodongkan senjata kepada masyarakat. Melihat kejadian itu masyarakat menjadi marah sehingga terjadi perampasan Sejata Organik Milik Oknum TNI dan pemukulan TIFA NEGERI untuk memanggil seluruh masyarakat Itawaka keluar (Kearifan lokal masyarakat apabila Tifa Negeri berbunyi maka masyarakat akan keluar). 

Menurut penuturan salah satu masyarakat Itawaka (Ibu J. Papilaya) ketika itu ia masih duduk di bangku SMP 2 SAPARUA. Ketika pulang sekolah dan sampai di negeri Itawaka suasana negeri sangat ramai diakibatkan karena masyarakat turun ke jalan untuk melihat pemukulan yang dilakukan oleh beberapa Oknum masyarakat. Awalnya beliau belum mengenal siapakah yang dipukul namun karena di kaki Oknum TNI tersebut memakai gelang hitam yang biasanya dipakai oleh TNI, sehingga dengan takutnya ia berlari meninggalkan tempat tersebut.

Kejadian itu mengakibatkan meniggalnya salah satu oknum TNI ( berinisial S) sedangkan salah satu oknum TNI lainya sempat disembunyikan di salah satu rumah SASTRAWAN INDONESIA asal Negeri Itawaka Kel. D. W. SYARANAMUAL, sedangkan kedua pengikut lainnya sempat melarikan diri dan melaporkan kepada kesatuan mereka yang pada waktu itu bermarkas di Saparua tepatnya Gedung Sekolah Cina.

Setelah kejadian itu hampir seluruh masyarakat Itawaka menyembunyikan diri sekitar (EWANG/BLAKANG NEGERI, TANJUNG, AMHOL dll).  Namun di Pantai NAMAL ada beberapa Oknum Polisi yang melakukan patroli dan singgah di pantai Namal sehingga menurut Ibu J. Papilaya oknum Kepolisian mengatakan Tidak mungkin TNI akan berbuat semena-mena malainkan mencari pelaku pembunuhan Anggota TNI dan menyelesaikan permasalahan secara HUKUM.

Peristiwa berlanjut pada Subuh yang diperkirakan Pukul 03.00 wit. Anggota TNI ….yang menurut penuturan masyarakat ± 1 Kompi TNI melakukan penyerangan terhadap desa Itawaka yang kata lain semuanya adalah masyarakat Sipil. Dari penuturan masyarakat yang tau akan kejadian ini dimana ada salah satu anggota masyarakat (M. Papilaya) yang hendak pergi ke Hutan (Jalan Tuhaha) sempat dicegah oleh anggota TNI untuk menanyai Identitas asal Negerinya, namun beliau menipu bahwa beliu orang Nolloth bukan Orang Itawaka ditambah ada oknum TNI orang Itawaka dan Porto yang bukan lain adalah PELA dan beberapa oknum TNI yang sangat kenal orang Itawaka sempat meloloskannya. Namun ada salah satu Oknum TNI yang tau bahwa DIA bukan orang Nolloth tetapi orang Itawaka.

Ketika ditangkap (M.Papilaya) dipukul dari desa IHA sampai di depan rumah WAKIL NEGERI ITAWAKA sehingga MENINGGAL. Selain itu ketika TNI masuk menyerang desa sebagian rumah masyarakat dibakar beserta isinya, perahu-perahu dipecahkan adapun juga yang meninggal terbakar hidup – hidup (S. Likumahua). Selain itu ada beberapa warga masyarakat yang dipukul/disiksa maupun ada yang berpura-pura meninggal (A. Pattinasarani) serta ada juga yang ditembak mati (A. Sahetapy) oleh pihak TNI. Ada juga yang masih duduk di bangku pendidikan SMU 1 Saparua pun dipukul (M.Wattimena).

Bpk Welem. Syaranamual sebagai Wakil Negeri Itawaka adalah sosok pimimpin yang sangat bertanggung jawab, walupun dimintakan meninggalkan Negeri oleh keluarganya namun dengan jiwa dan rasa tanggung jawab terhadap negeri Itawaka, beliau rela dipukul sampai mati di depan rumahnya demi mempertanggung jawabkan perbuatan warga desa Itawaka.

Dari penuturan orang tua – tua ada beberapa personil TNI yang sempat menyelamatkan masyarakat dari amukan rekan TNI-nya (Marga S, T, B). Diperkirakan pada pukul 08.00 wit  pada tanggal 19 April 1966 pikah Kepolisian beserta saksi yang hidup orang La Im (teman oknum TNI) datang,  dan dengan kerelaan hati warga masyarakat yang terlibat dalam pembunuhan anggota TNI menyerahkan diri tanpa ada paksaan apapun. Setelah menyerahkan diri pelaku pembunuhan dipenjarakan di LAPAS SAPARUA.
Akibat dari tragedi berdarah ini Saudara PELA PORTO dan MAKARIKI batal datang dalam membantu mengerjakan penyelesaian Gedung Gereja MARANATHA yang pada waktu itu dalam tahap Renovasi (BALKON)

Menurut salah satu masyarakat Itawaka yang pada waktu itu sudah menjadi Pentut Umum (JAKSA) pernah terjadi penyerangan anggota TNI sehingga mengakibatkan para pelaku sempat meloloskan diri dan meninggalkan LAPAS SAPARUA, namun akhirnya kembali lagi demi mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.
Diperkirakan………….. …………….
Pada bulan Desember 1966 para pelaku disidangkan di PENGADILAN TINGGI AMBON, hasil persidangan memutuskan hampir seluruh pelaku dinyatakan bebas karena DIPOTONG MASA TAHANANNYA, namun ada beberapa pelaku yang diancam kurungan penjara 2 tahun.

DARI PENUTURAN CERITA INI PENULIS TIDAK INGIN MENGADU DOMBAKAN ANTARA TNI DAN MASYARAKAT MAUPUN WARGA MASYARAKAT ITAWAKA SENDIRI, NAMUN DARI PENUTURAN CERITA LAMA INI KITA SEBAGAI ANAK NEGERI ITAWAKA HARUS MENGETAHUINYA DAN BUKAN UNTUK DIPERDEBATKAN SIAPA YANG BENAR DAN YANG SALAH. KITA JUGA HARUS MENYADARI BAHWA PEMBUNUHAN TERHADAP ANGGOTA TNI ADALAH PERBUATAN MELAWAN HUKUM, MENGINGAT MEREKA PELINDUNG NEGARA KESATUAN INDONESIA, WALAUPUN PERBUATAN PEMBOMAN IKAN DALAM LABUAN NEGERI ITAWAKA JUGA SANGAT BERTENTANGAN DENGAN HUKUM DAN KEARIFAT LOKAL MASYARAKAT ITAWAKA…..


Tragedi Perang Forok



MIGRASI DARI PULAU SERAM 

NUSA INA – Pulau Seram yang sangat dikenal dengan penduduk masyarakat Maluku Tengah (Ambon dan Lease) dengan sebutan NUSA INA atau PULAU IBU merupakan pusat penyebaran penduduk ke pulau-pulau sekitarnya antara lain SAPARUA, NUSALAUT, HARUKU dan AMBON.

Penduduk pulau Seram disebut dengan suku ‘’ALIFURU’’ yang diartikan oleh penduduk setempat sebagai manusia AWAL. Menurut antropolog A. H. KEANO pulau Seram dari dahulu telah didiami oleh suku bangsa yaitu bangsa ALIFURU dan mereka dikenal dengan suku ALUNE dan WEMALE.

Suku ALUNE dan WEMALE mendiami pedalaman daerah Seram Barat, dimana suku ALUNE bermukim di sekitar daerah RIRING dan suku WAMALE di sekitar daerah HUNITETU.

Menurut penuturan cerita orang tua-tua bahwa migrasi suku ALUNE dan WAMALE  diakibatkan oleh Peperangan antar ke dua suku. Adapun faktor penyebabnya adalah akibat pembunuhan Putri RAPIE HAINUWELE.

TERBENTUKNYA NEGERI – NEGERI LAMA ITAWAKA

Migarsi dari Pulau Seram yang menyebar ke pulau-pulau kecil kemudian menempati daerah-daerah pegunungan dan membentuk masyarakat adat sendiri yang disebut dengan NEGERI LAMA, seperti IHA di Gunung AMAHIAL, NOLLOTH di Gunung NOL, ULLAT di Gunung SOPAKE , PORTO di Gunung OPAL, HARIA di Gunung AMANO dan SAPARUA di perbukitan RILLA dan kemudia berubah menjadi SAPARUA LESI. (Drs. J.A.Pattikayhatu dalam Laporan Warisan Budaya di Kecamatan Saparua)
YANG MENJADI PERTANYAAN DI GUNUNG APAKAH ITAWAKA TINGGAL SAAT PEMBENTUKAN NEGERI LAMA…..
Menurut penuturan cerita orang  tua-tua… di ITAWAKA terdiri dari 4 NEGERI LAMA diantaranya :
  1. ITALILI di perbukitan ITALILI. Yang dipimpin oleh HAMA/AMA PATTIBEILOHY/PATTIPELAYA.
  2. AMAN/AMANTAKANO diperbukitan AMAN. Yang dipimpin oleh Kapitang BESAR DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA.
  3. MONI di Gunung MONI. Yang dipimpin oleh Raja/Kapitang NARUI SYARANAMUAL atau yang lebih dikenal dengan nama ZAKARIAS BINTANG KOMESE.
  4. LESSY dan MITAR di perbukitan. Yang dipimpi oleh Kapitang LESIMANA (Siahaya).
Dalam pertumbuhan dan perkembangan di Negeri Lama yaitu ITALILI, MONI dan AMAN, masing-masing memiliki kekuasaan untuk mengatur masyarakat dalam bidang politik, keamaan, sosial dan kebudayaan. Namun melihat perilaku dan sikap dari Kapitang DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA seolah-olah tampuk pemerintahan di Negeri Lama didominasi oleh Kapitang DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA yang paling berkuasa saat itu. Yang sangat merasakan pengaruh dari kekuasaan Negeri Lama AMAN di bawah kapitang besar DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA adalah Negeri Lama MONI yang dipimpin oleh Raja/Kapitang ZAKARIAS BINTANG (KOMESE III).

Maka siasat dan strategi untuk mengakhiri kekuasaan Kapitang DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA mulai diatur. Kapitang/RAJA MONI mengundang para penguasa di MONI termasuk seorang pengrajin pandai Emas LITAMAHUPUTTY dan MALESSY dari Kapitang DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA yaitu LESIMANA SIAHAYA………… KENAPA LESIMANA DILIBATKAN DALAM RENCANA INI ?????, Karena sebagai pengawal/MALESY di pasti tahu berbagai rahasia, kekuatan, keuletan dan kekebalan dari Kapitang Besar DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA.  Mereka mengadakan musyawarah besar di MITAR. Dalam musyawarah dimintakan pendapat dan keterbukaan dari LESIMANA SIAHAYA tentang dimana letak kekebalan Kapitang Besar DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA.

LESIMANA SIAHAYA membuka rahasia besar itu, bahwa kekebalan dari Kapitang Besar DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA terletak di daun yang diletakan di bawah LIDAH kalau di berhadapan dengan musuhnya atau pada saat Kapitang Besar DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA makan baru dilepaskan. Dengan cara mengadakan pesta Negeri di MITAR sehingga bisa mengambil kesempatan untuk membunuh Kapitang Besar DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA.

Yang ditugaskan untuk membunuh Kapitang Besar DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA adalah LITAMAHUPUTTY, proses pembunuhan dilakukan dengan cara LITAMAHUPUTTY memberikan makanan dengan menggunakan FOROK, melihat situasi yang tepat LITAMAHUPUTTY menusuk FOROK ke dalam Kerongkongan Kapitang Besar DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA, seketika itu juga Kapitang Besar DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA pun Tewas. Namun ada pun penuturan cerita fersi lain yang mengatakan bukan saja LITAMAHUPUTTY yang membunuh Kapitang Besar DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA tetapi KAPITANG dari SAHETAPY pun juga yang MEMOTONG Kapitang Besar DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA .

Dengan terbunuhnya Kapitang Besar DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA maka berakhirlah kekuasaan di Negeri Lama AMAN dan kekuasaan beralih ke Negeri Lama MONI di bawah pimpinan Raja/Kapitang NARUI SYARANAMUAL atau yang lebih dikenal dengan nama ZAKARIAS BINTANG KOMESE.
Paska perang FOROK tersebut, Raja/Kapitang NARUI SYARANAMUAL atau yang lebih dikenal dengan nama ZAKARIAS BINTANG KOMESE meberikan Jabatan/Gelar  Kapitang “LOLOUSA” kepada LITAMAHUPUTTY dan LESIMANA diberikan Dusun/Petauanan.

Itulah sejarah singkat mengenai PERANG FOROK di Desa Itawaka dengan terbunuhnya KAPITANG BESAR DIRK SAMASELA TUAPATTINAYA……….
GBU

Itawaka Negeriku

Negeri Itawaka…….Jauh di Kenang-Kenangan Baik Susah dan Gelisah ku Ingat Tiap Malam Tagal itu Hai Teman Janganlah Ketinggalan Ingat JANJI dan PESAN Meski Jauh Diseberang”

Itulah lantunan lagu Hawaiian yang slalu diingat orang itawaka yang dimainkan oleh Mantan Raja Itawaka (Almr Izack. Wattimena). 

Pernahkan terbayang dalam benak kita apa sih ITAWAKA…..!!!
Tapi mungkin bagi sebagian kalangan ITAWAKA tidak asing lagi….!!! Ia…….karena dari Negeri yang jauh di upuk timur pulau Saparua inilah banyak melahirkan pemimpin-pemimpin sebut saja“Thomas Mattulesy, Mayor Udara Leo Wattimena, Mayor Udara Piter Wattimena” serta anak negeri lainnya yang memegang peran penting dalam pembangunan Maluku.

Itawaka berada pada 3045’ LS dan 1290 BT, pantai selatan pulau Seram dan berada pada pesisir paling ujung Jazirah Hatawano, Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah. NAMA ITAWAKA Berasal dari perkataan TITAWAKA. TITA artinya Perintah dan WAKA artinya JAGA jadi TITAWAKA berarti PERINTAH UNTUK MENJAGA.