Selasa, 09 November 2010

Sejarah Terbentuknya Jemaat GPM Itawaka


Maranatha
Proses turun masyarakat Itawaka dari negeri lama ke negeri sekarang terjadi pada tahun 1651 pada saat perintah turun dari penguasa Belanda saat itu yang terjadi di pantai Moni. Kemudian pada tahun 1653 masyarakat di negeri lama turun ke negeri sekarang menempati lokasi Wai Kikinawoni yang kemudian berubah nama menjadi air potong-potong yang sekarang disebut potang-potang. Pada saat turun dari gunung tersebut jumlah Kepala Keluarga sebanyak 24 KK dibawah pemerintahan Izak Pelatiti Pattinaja Wattimena, dan yang menjadi pimpinan rombongan adalah Ama Pati Pelaya yang sekarang menjadi marga Papilaja, sedangkan yang menjadi pengawas rombongan adalah Litamahuputy.

Sebelum adanya gedung gereja dan menjadi jemaat sendiri maka aktivitas ibadah minggu orang-orang Itawaka berlangsung di Gereja Nolloth dan menjadi bagian dari warga jemaat Nolloth yang dimulai pada tahun 1834-1854. Sejak tahun 1855 jemaat GPM Itawaka berdiri sendiri pisah dari Nolloth dengan Pdt pertama R. Bassert dan Guru Midras P. Latupeirissa. Pada tahun 1855 jemaat GPM Itawaka telah melakukan aktivitas sendiri dengan menggunakan gedung gereja darurat. Hampir selama dua puluh tahun orang-orang Itawaka bergambung menjadi bagian dari warga jemaat Noloth, namun setelah terjadi masalah-masalah sosial antara orang-orang Noloth dan orang-orang Itawaka maka muncullah inisiatif dari orang-orang Itawaka untuk membangun gedung gereja sendiri dan menjadi jemaat sendiri pisah dari Nolloth.

Inisiatif untuk membangun gedung gereja sendiri dan menjadi jemaat sendiri oleh orang-orang Itawaka berawal dari peristiwa di hari minggu pada saat keluar gereja malam. Dimana orang-orang Itawaka dilempari dengan buah papaya masak yang sudah busuk oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. Peristiwa ini, kemudian disikapi oleh Lucas Papilaja dan Dapit Matulessy yang saat itu sebagai kepala soa. Mereka mengambil inisiatif untuk membuat surat (Rekes) kepada konteler Saparua untuk memintakan izin membangun gedung gereja bagi masyarakat Itawaka. Setelah mendapat izin dari koteler Saparua maka gereja pertama di bangun sekitar tahun 1860. Gedung gereja pertama Itawaka pada saat dibangun dipimpin oleh kepala Bas atau kepala tukang Lucas Papilaja dari Itawaka dan Piter Martinus Latupeirissa serta Latuihamalo kepala tukang dari Porto. Pembangunan gedung gereja pertama jemaat GPM Itawaka dengan pimpinan jemaat Pdt R. Bassert dan guru Madras P. Latupeirissa.

Gereja yang pertama di Itawaka dibangun dengan jumlah tiang lilin sebanyak delapan buah dan menggunakan ramuan kayu diambil dari lokasi gunung Ama Iha (sebutan hari-hari amihal). Jumlah tenaga yang membangun gereja pertama sebanyak 30 orang laki-laki dan dibantu dengan tenaga perempuan untuk menaikan balok-balok gereja. Selama pekerjaan pembangunan gedung geraja pertama Itawaka, maka perempuan-perempuan dan anak-anak selalu mengkidungkan kidung-kidung pujian setiap hari sebagai dukungan spiritual dalam melakukan pekerjaan pada saat itu.

Untuk membuat mimbar gereja pertama dipercayakan kepada tukang Piter Martinus Latupeirissa dan buah tangan dari tukang tersebut masih ada dan digunakan sampai saat ini. Ada peristiwa yang terjadi pada saat memasukan mimbar hasil buah tangan tukang Piter Martinus Latupeirissa ke dalam gedung gereja, dimana pada saat mibar akan dimasukan kedalam gedung gereja tidak bisa dimasukan sebab pintu gereja sempit karena mimbar tersebut lebih besar dari pintu gereja. Untuk mengatasi masalah ini, maka kepala tukang pembangunan gereja pertama Lucas Papilaja berdoa dan setelah itu mendorong tiang pintu gereja sehingga pintu gereja menjadi luas dan mimbar tersebut dapat dimasukan kedalam gereja. Oleh karena jasa kepala tukang Lukas Papilaja tersebut, maka tukang Piter Latupeirissa mengukir 10 jari dari Lukas Papilaja dibawah tempat baca pada mimbar gereja dan ukiran 10 jari tersebut sampai saat ini masih ada sebagai bukti sejarah.

Renovasi Gedung Gereja Pertama & Pembangunan Gedung Gereja Maranatha Jemaat GPM Itawaka.

Sejak dibangunnya gereja pertama di Itawaka pada sekitar tahun 1860, maka renovasi gereja pertama untuk pembuatan balkon gereja dilaksanakan pada tahun 1966 dengan ketua Panitia Julius Papilaja kemudian diganti dengan Julius Syaranamual dengan kepala tukang Yosep Tomasoa pada masa Pimpinan Jemaat Pdt F. Latumahina dan Penjabat Pemerintah Negeri Itawaka saat itu Welem Syaranamual. Setelah renovasi pertama dilakukan maka ada rencana untuk dilakukan renovasi gereja lagi  pada tahun 1968 dimana panitia renovasi gedung gereja Itawaka dipimpin oleh Pdt F. Lakburlawal (penghentar jemaat GPM Itawaka saat itu) sebagai ketua umum dan sekretaris umum adalah J.S. Wattimena.

Panitia ini bertugas untuk melakukan renovasi bangunan atas gereja dan menggantikan atap rumbia dengan atap zink serta menggantikan sebagian dinding yang dibuat dari papan dengan beton. Tahun 1971 Pdt F. Lakburlawal dipanggil ke Ambon untuk tugas belajar, maka jabatan ketua umum dipegang oleh Z. Papilaja yang pada saat itu menjabat Wakil Pemerintah Negeri Itawaka. Setelah adanya raja difenitif maka dilakukan pergantian panitia. Pergantian panitia yang lama ke panitia yang baru dilaksanakan pada taggal 31 Januari 1972 yang dipimpin oleh A.A. Syaranamual (Raja Negeri Itawaka) sebagai ketua umum dan sekretaris umum dijabat oleh G. Lewerissa (kepala SD Negeri Itawaka).

Tugas panitia baru adalah untuk melanjutkan rencana renovasi gereja Itawaka. Tanggal 15 dan 18 Maret 1972 panitia pusat melakukan rapat dengan IKWI Ambon dan berhasil membentuk panitia cabang Ambon yang dipimpin oleh Ph. Wattimena dan J. Tuapattinaja. Pada tanggal 1 April 1972 Panitia Cabang Ambon tiba di Itawaka bersama dengan Bpk Christopol Pattinaja, BE Kepala Kantor PU Kota Ambon dan beberapa stafnya serta Ir. Arman Papilaja yang tergabung dalam tim teknis yang diturunkan oleh IKWI Ambon.

Tim teknis yang diturunkan tersebut bertugas meneliti kondisi kelayakan gedung gereja secara teknis. Pada saat melakukan penelitian teknis, maka ditemukan tiang-tiang gereja pertama sudah lapuk, bahkan batu, pasir dan kapur yang digunakan untuk membangun tembok gereja pertama diambil sampelnya untuk diteliti di laboraterium fakultas teknik Unpatti. Dan dari hasil penelitian laboratorium didapatkan hasil bahwa dinding tembok gereja sudah tidak lagi layak pakai karena pasir, batu dan kapur tidak berseyawa lagi (daya ikat sudah lapuk). Dari hasil penelitian teknis tersebut maka atas kesepakatan rapat Panitia dan Majelis Jemaat serta Pemerintah Negeri Itawaka pada tanggal 18 April 1972, diputuskan gereja pertama Itawaka dilakukan pembongkaran secara total. Tanggal 20 April 1972 gedung gereja lama dibongkor seluruhnya. Di sela-sela kegiatan renovasi gereja, maka pada tanggal 2 April 1972 dilakukan peresmian gedung gereja darurat untuk melayani jemaat GPM Itawaka dalam melakukan aktivitas ibadah minggu. Pada tanggal 10 April 1972 diadakan pembongkaran bahagian atas gedung gereja lama yang dilakukan dalam suatu upacara gerejawi.

Pada tanggal 9 April 1974 panitia cabang Ambon dan pengurus IKWI menghadiri upacara pembongkaran bahagian atas gedung gereja lama. Tim IKWI Ambon dipimpin oleh F.J. Latumaerissa dengan menggunakan KM Laut Arafura dan membawa 155 sak semen dan 120 lembar zink. Pada bulan Juni 1972 tiba di Itawaka Tim PAALB (Persatuan anak-anak Leilisal Beinusa) dari negeri Belanda yang dipimpin ketuanya J. Papilaja. Pada tanggal 2 Juli 1972 diadakan rapat jemaat dengan Tim PAALB dimana dalam pertemuan tersebut panitia pusat menjelaskan alasan dibangunnya gedung gereja baru bukan lagi renovasi seperti yang sejak awal direncanakan. Karena itu panitia sangat mengharapkan peran dan partisipasi dari PAALB demi mensukseskan pembangunan gedung gereja dimaksud. Setelah mendengar penjelasan dari panitia menyangkut alasan tidak lagi dilakukan renovasi gereja tetapi gereja akan dibangun baru, maka pada hari Minggu tanggal 9 Juli 1972 selesai kebaktian Tim PAALB menyerahkan sumbangan sebesar Rp. 1.281.850 dari PAALB dan sumbangan dari panitia cabang di Jakarta sebesar Rp. 70.000 yang pada awalnya akan diperuntuhkan untuk kegiatan renovasi gereja, namun karena recana kegiatan renovasi telah mengalami perubahan untuk membangun gedung gereja baru maka sumbangan tersebut diserahkan kepada panitia pembangunan untuk dimanfaatkan guna kelancaran kegiatan pembangunan gereja baru Itawaka. Setelah kembali ke Belanda dan membicarakan realitas yang didapatkan di Itawaka, maka pada bulan Desember 1974 melalui J. Siahaya yang berlibur di Itawaka PAALB menyumbang uang tunai sebesar 12.000 gulden untuk panitia pembangunan gedung gereja Itawaka.

Gedung gereja Maranatha dibangun dengan peletakan batu pertama pada tanggal 10 Juni 1973 bertepatan dengan hari Keturunan Roh Kudus. Pimpinan jemaat Paulus Tezen dan pimpinan pemerintah negeri Itawaka Alex Syaranamual. Dan yang menjadi ketua panitia pembangunan gereja yang baru adalah Pnt. Jansenus Patty dan yang menjadi bas dan arsitek Ateng Latupeirissa dan Teti Papilaja sementara kepala tukang dari Porto Zeth Tetelepta dan Omas Noja sedangkan kepala tukang dari Itawaka Frans Wattimena. Peletakan batu pertama gereja baru jemaat GPM Itawaka dihadiri oleh Ketua Klasis GPM PP Lease Pdt. D. Warella dan Camat Saparua Wim Sinanu,BA. Pada tanggal 25 Februari 1974 tukang batu dan kayu tiba dari Porto. Mereka dipimpin oleh Th. Noja dan Z Tetelepta sebagai kepala tukang Porto dan S. Th. Nanlohy sebagai ketua Lembaga Sosial Desa (LSD) Porto. Pekerjaan fondasi gereja baru dilakukan pada tanggal 26 Februari 1974, dan negeri-negeri yang turut kerja fondasi gereja saat itu adalah rakyat dari negeri Porto, Noloth dan rakyat negeri Iha. Pada tanggal 17 April 1974 para tukang dan tenaga kerja dari Porto tiba di Itawaka dengan jumlah personil sebanyak 130 orang untuk mengerjakan fondasi dan Fondasi gereja baru selesai dikerjakan pada tanggal 20 April 1974.

Tampak Mimbar
Pada saat pembongkaran gereja pertama maka terjadi pertemuan antara Panitia Pembangunan gereja dengan Pengurus Ikatan Warga Itawaka Ambon yang dilakukan di rumah bpk Teko Pattipeilohy di Batu Gajah dimana panitia dari Itawaka diwakili oleh ketua Panitia Pnt Jansenos Patti dan Togama Sepa Wattimena dalam percakapan bersama tersebut pihak panitia mengajukan usulan untuk gedung gereja yang baru tidak lagi menggunakan mimbar gereja lama baik mimbar besar maupun mimbar kecil. Usulan panitia ini mendapat tanggapan serius dari Pengurus IKWI Ambon, sebab IKWI Ambon berkeinginan untuk hasil buah tangan dari para datuk-datuk yang membangun gereja pertama perlu dipertahankan dan dilestarikan. Karena itu IKWI Ambon tetap bersisi teguh untuk mempertahankan mimbar besar untuk digunakan pada gereja yang akan dibangun baru. Atas perdebatan tersebut maka disepakati bersama bahwa mimbar besar dan mimbar kecil hasil buah tangan dari para datuk-datuk tetap digunakan. Hal ini juga dikarenakan bahwa mimbar besar dari aspek arsiktektur maupun kualitasnya masih tetap baik dan tidak dimakan jaman. Sehingga sampai saat ini mimbar besar yang merupakan satu-satunya peninggalan dari pertama tetap digunakan dan dilestarikan sampai saat ini.

Pada bulan Februari 1975 pemasangan sekaligus pengecoran tiang-tiang termasuk tiang toren, balkon dan reng balok. Tanggal 7 April 1975 pekerjaan tahap kedua dilaksanakan dengan dukungan sebanyak 93 tenaga tukang dari Porto ditambah tukang Itawaka untuk mengerjakan pengecoran tiang-tiang gereja yang dilaksanakan selama tiga hari. Pekerjaan selanjutnya dilaksanakan pada tanggal 12 Mei 1975 dimana tukang dari Porto yang datang untuk melakukan pekerjaan sebanyak 200 orang untuk melanjutkan kegiatan pengecoran tiang-tiang gereja dan mereka bekerja selama tiga hari. Pekerjaan gedung gereja tersebut dilakukan oleh masyarakat dari porto dibantu oleh para tukang yang ada di Itawaka.

Sementara pekerjaan pembangunan gedung gereja dilaksanakan maka di Belanda melalui muda-mudi anak-anak Itawaka merasa tergerak hati mereka untuk turut bertanggungjawab berpartisipasi membantu pembangunan gedung gereja baru Itawaka. Atas komitmen dan tanggungjawab moral tersebut maka mereka membentuk suatu wadah yang diberinama Komite Pembangunan Gereja Itawaka (KPGI) yang diketuai oleh Pdt. P. Papilaja dengan tugas untuk melakukan penggalangan dana bagi penyelesaian pembangunan gedung gereja Itawaka. Tanggal 4 Juni 1975 utusan KPGI yang terdiri dari ketua Pdt. P.Papilaja dan bendahara R. Matulessy tiba di Ambon dan pada tanggal 5 Juni 1975 utusan KPGI mengadakan rapat dengan panitia dan KPGI menyanggupi untuk membiayai sisa anggaran untuk menyelesaikan pembangunan gedung gereja Itawaka dan dalam pertemuan tersebut KPGI menyumbangkan uang tunai sebesar 2.500.000 rupiah. Tanggal 9 Juni 1975 kepala tukang dan 50 tukang kayu dari Porto tiba di Itawaka untuk mengerjakan bakesting untuk balkon yang dilakukan selama 4 hari. Tanggl 18 Juni 1975 para tukang dari Porto tiba di Itawaka dengan jumlah personil 141 orang dan bekerja selama 3 hari untuk melakukan pengecoran balkon dan level muka. Pada bulan Juli 1975 tukang dari Porto melakukan pekerjaan di Itawaka dengan jumlah personil sebanyak 360 orang yang dibagi kedalam 6 kloter untuk mengerjakan menyusun tela, mengerjakan bakesting untuk level kuncistori dan 3 buah kap sekaligus mencor kap dan level kuncistori. Tanggal 16 Agustus 1975 panitia mengurus kayu di Makariki yang merupakan pela dari Itawaka untuk kosein-kosein pintu jendela dll.

Pada bulan Agustus 1975 pekerjaan dilanjutkan yaitu mencuci kayu kap dan memasang beberapa buah kap, mencuci kayu untuk kosein-kosein pintu dan jendala serta menyusun tela untuk tembok. Untuk mengerjakan pekerjaan tersebut tukang dari Porto didatangkan sebanyak 358 orang. Mereka datang dalam 6 kloter. Kemudian pada bulan September 1975 dilakukan pemasangan kap dan mencor fondasi untuk level pintu samping dan tukang yang datang dari Porto sebanyak 35 orang. Tanggal 13 Oktober 1975 pekerjaan dilanjutkan kembali dan tukang dari Porto yang didatangkan sebanyak 23 orang yang bekerja selama 4 hari untuk melanjutkan pembuatan kosein pintu jendela dan menggali parit untuk fondasi pagar halaman. Pada tanggal 3 November 1975 41 tukang dari Porto kembali tiba di Itawaka untuk melanjutkan pekerjaan, kemudian pada tanggal 4 November 1975 tukang dari Porto diturunkan lagi sebanyak 162 orang untuk melanjutkan pekerjaan lagi. Tanggal 5 November 1975 dilakukan pekerjaan tutup rumah gedung gereja yang dilakukan dalam bentuk acara tradisional. Kemudian pada tanggal 7-8 November 1975 dilanjutkan pekerjaan oleh para tukang dan warga jemaat Itawaka berupa tutup zink, mencor tiang level pintu samping, mencor tempat mimbar dan menyusun batako pada level muka toren. Tanggal 11 Februari 1976 kepala tukang dan 44 tukang dari Porto menlajutkan pekerjaan dan membuat bakesting toren dan melanjutkan pembuatan fondasi pagar, yang dikerjakan selama 3 hari bersama-sama dengan tukang serta jemaat Itawaka. Tanggal 25 Februari 1976 rombongan dari Porto tiba di Itawaka dan melakukan pekerjaan mencor toren (tiang lonceng gereja) dan mencuci kayu untuk loteng. Rombongan yang datang dari Porto berjumlah 96 orang dan mereka bekerja selama 3 hari. Pada tanggal 24 Maret rombongan dari Porto dating ke Itawaka dengan personil berjumlah 78 orang dan bekerja selama 3 hari dan yang dikerjakan adalah melanjutkan pekerjaan mencor toren dan mencuci kayu untuk loteng.

Kegiatan pekerjaan pembangunan gedung gereja sempat terhambat akibat dari ada mis komunikasi antara panitia dan warga dirantau baik di Ambon maupun di Belanda, dan setelah dilkarifikasi oleh sekretaris panitia G. Lewerissa maka aktivitas pekerjaan mulai berjalan lagi. Pada tanggal 10 Mei 1976 para tukang dari Porto masuk ke Itawaka untuk melakukan pekerjaan selama 3 hari yaitu menyusun batu tela di toren, memplester tiang-tiang level pintu samping timur dan barat. Sampai akhir Mei 1976 sebahagian pembangunan belum terselesaikan terutama ; toren, balkon belum dipasang plavon, kisi-kisi dan tegel pada lantai gedung. Pada tanggal 1  Juni 1976 datang lagi 118 tenaga tukang dari Porto untuk melakukan pekerjaan plester toren, membuat rangka loteng dan rangka kisi-kisi dan pekerjaan tersebut dilakukan selama 3 hari. Kemudian pada tanggal 14 Juni 1976 tenaga dari Porto sebanyak 58 orang kembali melanjutkan pekerjaan yang dikerjakan pada tanggal 1 Juni 1976. Pada tanggal 17 Agutsus 1976 tenaga dari Porto sebanyak 42 orang kembali melakukan pekerjaan selama 3 hari untuk menyelesaikan plester toren, mengapur tembok luar dan dalam serta membuat lesplank muka. Kemudian pada tanggal 15 September 1976 pela Porto mengirimkan 39 orang tenaga tukang untuk mengerjakan pemasangan plavon loteng dan balkon serta membuat membuat lesplank belakang dan mereka bekerja selama 3. Pada tanggal 13 Oktober 1976 pela Porto mengirimkan tenaga tukang sebanyak 73 orang untuk mengerjakan pekerjaan berupa menyusun batu tela pada balkon, mencat loteng, memasang nako jendela, mencuci kayu untuk loteng kuncistori, plester tembok balkon dan menggali tanah dalam ruang gereja untuk pemasangan tegel.

Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan kembali pada tanggal 25 Oktober 1976 dengan tenaga tukang dari Porto sebanyak 21 orang. Pekerjaan hamper tiba di garis finis, maka untuk memenuhi target waktu peresmian yang telah direncanakan maka pada Bulan November 1976 enam kali tenaga tukang dari Porto silih berganti datang ke Itawaka untuk melakukan pekerjaan dalam menyelesaikan pembangunan gedung gereja. Kloter pertama tenaga dari Porto datang ke Itawaka pada tanggal 1 November  1976 dengan jumlah personil 58 orang, kloter kedua datang pada tanggal 9 November 1976 dengan jumlah personil sebanyak 137 orang, Kloter ketiga datang pada tanggal 17 November 1976 dengan jumlah personil sebanyak 125 orang, kloter keempat datang pada tanggal 28 November 1976 dengan jumlah personil sebanyak 126 orang.

Kloter pertama sampai kloter keempat melakukan pekerjaan memasang kaca dan nako pada jendela-jendela, menyusun tegel di balkon dan ruangan gereja serta membuat pagar halaman gereja dan jumlah hari kerja sebanyak 13 hari. Sementara itu tenaga perempuan dari Porto datang ke Itawaka sebanyak dua kloter yaitu kloter pertama pada tanggal 8 November 1976 dengan personil sebanyak 90 orang dan kloter kedua datang pada tanggal 25 November 1976 dengan personil sebanyak 120 orang untuk mengerjakan pembersihan kompleks gereja, mengakut air, pasir dalam mebatu tukang. Sebelum sampai pada waktu peresmian, maka tenaga dari Porto didatangkan lagi sebanyak tiga kloter dengan rincian : kloter pertama pada tanggal 1 Desember 1976 dengan jumlah tenaga sebanyak 87 orang, kloter kedua pada tanggal 6 Desember 1976 dengan jumlah tenaga sebanyak 52 orang dan kloter ketiga pada tanggal 8 Desember 1976 dengan jumlah tenaga sebanyak 40 orang untuk merampungkan sisa pekerjaan bangunan induk.

Pada tanggal 10 Desember 1976 pela Porto mengakhiri pekerjaan mereka dalam membangun gedung gereja Itawaka dan dilepaskan dalam suatu upacara gerejawi bertempat di gedung gereja darurat. Lamanya hari kerja dari para tukang dan tenaga dari Porto untuk membangun gedung gereja Itawaka selama 130 hari dengan jumlah tenaga sebanyak 3.408 orang baik pria maupun wanita. Pekerjaan pembangunan gedung gereja baru Itawaka telah selesai dikerjakan, maka semua warga jemaat GPM Itawaka bertekad untuk merayakan Natal dan Tahun Baru di gedung gereja baru, oleh karena itu ditetapkan tanggal pengresmian pada tanggal 21 Desember 1976. Tanggal peresmian tersebut dikukuhkan dalam rapat IKWI Ambon dan tokoh-tokoh Itawaka di Ambon. Rapat dihadiri oleh panitia pusat dan utusan dari Majelis Jemaat dan Badan Saniri Negeri serta utusan dari Majelis Jemaat Porto dan Badan Saniri Negeri Porto sekaligus membentuk panitia peresmian gedung gereja Itawaka yang diketuai oleh Z. Papilaja dan wakil ketua Penatua M Sahertian. Tanggal 19 Desember 1976 utusan dari KPGI yaitu D. Syaranamual dan J. Papilaja tiba dari Belanda untuk menyaksikan peresmian gereja baru Itawaka. Begitu pula anak-anak Itawaka dirantau berbondong-bondong datang memadati negeri dan jemaat Itawaka untuk menyaksikan acara peresmian gedung gereja baru jemaat GPM Itawaka. Pada tanggal 20 Desember 1976 Pemerintah Negeri Porto yang dipimpin oleh D. Lopulalan beserta Ibu dan Pimpinan Jemaat GPM Porto Pdt. Manduapessy dan ibu serta staf pemerintah dan staf Majelis Jemaat, tokoh-tokoh masyarakat Porto dan rakyat Porto tiba di Itawaka. Mereka disambut di perbatasan negeri Noloth dan Itawaka dalam acara adat dan dikelilingi dengan kain putih oleh istri-istri Saniri Negeri Itawaka, kemudian pada malam hari dilakukan ibadah khusus menyosong peresmian gedung gereja baru sekaligus mensyukuri penggunaan gereja darurat.

Sebelum gereja baru Itawaka diresmikan maka terjadi pembicaraan menyangkut pemberian nama gedung gereja baru, maka dari semua nama gereja yang diusulkan pada saat itu kemudian dilakukan pergumulan oleh Ketua Panitia Penatua Jansenos Patty. Hasil pergumulan ketua panitia maka nama gedung gereja jemaat GPM Itawaka yang baru dibangun diberinama Maranatha (yang artinya Tuhan Datang), dan nama gereja tersebut  digunakan sampai saat ini. Gedung gereja Maranatha jemaat GPM Itawaka diresmikan pada tanggal 20 Desember 1976 pada masa Pdt Paulus Tezen dan penjabat pemerintah Itawaka Jocob Patti, BA yang diresmikan oleh Badan Pekerja Harian Sinode Pdt. J.Ospara, STh dalam suatu upacara gerejawi.  

Renovasi Gedung Gereja Maranatha Jemaat GPM Itawaka.
Tampak Balkon

Sejak dari tahun 1976 setelah gereja Maranatha jemaat GPM Itawaka diresmikan maka ada terjadi beberapa kali penambahan bangunan dalam lokasi gedung gereja berupa kantor jemaat dan kuncistori, pembuatan MCK, dan pembuatan kursi gereja dari kayu. Dalam perkembangannya, maka dalam sidang Jemaat GPM Itawaka yang ke 30 tahun 2006 pada bidang kerumahtanggaan direkomendasikan oleh peserta siding jemaat untuk dilakukan renovasi gedung gereja maranatha terutama pada bagian pintu dan jendela untuk lebih mengoptimalkan sirkulasi udara pada saat ibadah, menyesuaikan kondisi bangunan dengan perkembangan jaman, menambah keindahan bangunan, sekaligus memberikan keyamanan bagi warga jemaat dalam mengikuti ibadah pada gedung gereja Maranatha dan pada saat itu yang menjadi pimpinan jemaat Pdt. J. Timisela,Sm.Th sedangkan kepala desa Itawaka saat itu A.A. Sahetapy.

Tampak Balkon
Untuk melakukan dan merealisasikan program jemaat tersebut, maka dibentuklah Panitia Renovasi gedung dengan ketua panitia Penatua Drik Sahetapy dan Sekretaris Penatua Alfons Siahaya. Setelah panitia terbentuk maka panitia mulai melakukan konsolidasi jemaat, tukang dan anak-anak negeri di rantau untuk mendukung suksesnya kegiatan renovasi dimaksud. Panitia melakukan rapat bersama dengan IKWI Ambon sebanyak dua kali untuk mebicarakan rencana renovasi dan kemudian membicarakan acara pengetokan gedung gereja maranatha sebagai tanda dimulainya kegiatan renovasi gereja. Dalam mensukseskan program tersebut maka seluruh anak-anak negeri di rantau melalui organisasi Ikatan Warga Itawaka memberikan dukungan dan sport bagi panitia baik secara moral maupun materil.  

Pekerjaan renovasi gedung gereja Maranatha dimulai dengan kegiatan pengetokan sebagai tanda dilakukan renofasi pada tanggal 22 Oktober 2006 dalam suatu upacara gerejawi yang dihadiri oleh Ketua Klasis GPM PP Lease Pdt. D. Sutela, STh Raja Negeri Porto B. Nanlohy dan Staf Pemerintah Porto, Ketua Majelis Jemaat GPM Porto Pdt. Y.Teslatu,STh dan staf majelis Jemaat GPM Porto Donatur tetap kegiatan renovasi gedung gereja Maranatha Drs. Z. Wattimena, MSi, Pengurus Pusat IKWI Ambon, dan anak-anak Itawaka dirantau dan ibah minggu pada saat itu dipimpin oleh Pdt. Nik Taberima, STh. Pada acara pengetokan tersebut dilakukan oleh masing-masing Ketua Klasis GPM PP Lease Pdt. D. Sutela, STh, Raja Negeri Porto B. Nanlohy, Ketua Majelis Jemaat GPM Porto Pdt. Y.Teslatu,STh, Kepala Desa Itawaka A.A. Sahetapy, Ketua Majelis Jemaat GPM Itawaka Pdt. Jhon Paais, STh, Bas sekaligus arsitek Ateng Latupeirissa dan Drs Z. Wattimena, MSi yang mewakili anak-anak Itawaka di rantau dan yang mewakili Pemerintah Negeri Makariki.

Pengetokan gedung gereja Maranatha sebagai tanda dimulai pekerjaan renovasi gereja dilakukan pada masa Pdt. Jhon Paais, STh dan pemerintah negeri Adolof A. Sahetapy dengan ketua panitia renovasi Pnt D.N. Sahetapy sementara yang bertindak sebagai Bas dan arsitek Marthen Latupeirissa dan kepala tukang dari Itawaka Togama Agustinus Sakalessy. Selanjutnya pada tanggal 23 oktober 2006 dilakukan pembongkaran kaseng-kaseng jendala dan pekerjaan renofasi dilakukan.  Namun dalam perkembangannya, maka rencana awal renovasi gedung gereja Maranatha pada pintu dan jendela mengalami perubahan dan ditabahkan dengan penggantian atap bangun (zenk), plovon, balkon dan tegel serta pengadaan pindingin ruangan (AC). Perubahan rencana ini mendapat persetujuan dari Majelis jemaat GPM Itawaka, Pemerintah Negeri Itawaka dan Drs. Z Wattimena, MSi sebagai donator tetap renovasi gereja Maranatha. Pekerjaan renovasi gereja dilakukan mulai dari tanggal 23 oktober 2006 sampai tanggal 12 Februari 2008 dengan jumlah hari kerja efektif sebanyak 231 hari dengan tenaga tukang sebanyak 30 orang.

Gedung gereja Maranatha yang direnovasi diresmikan pada tanggal 17 Februari 2008 dalam suatu acara gerejawi. Pada saat acara peresmian syukur renovasi gedung gereja Maranatha pimpinan jemaat GPM Itawaka Pdt Jhon Paais, STh dan penjabat pemerintah negeri Itawaka A. Pattiasina,BA sedangkan ketua panitia adalah Demi Lessil dan sekretaris Ronal Papilaja. Dalam acara peresmian dan syukuran renovasi gereja Maranatha juga dilakukan peresmian Gedung Kantor Kepala Pemerintahan Negeri Itawaka serta dilakukan peletakan batu pertama gedung Pusat Pelayanan Pendidikan Masyarakat Itawaka. Dalam acara syukur renovasi, peresmian Kantor Kepala Pemerintahan Negeri Itawaka dan Peletakan Batu Pertama gedung Pusat Pelayanan Pendidikan Masyarakat Itawaka di hadiri oleh Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu, Bupati Maluku Tengah Ir. Hj. Abdulah Tuasikal, MSi, Ketua Sinode GPM Pdt. DR. Jhon Ruhulesin, MSi, Walikota Ambon Drs. M.J. Papilaja yang juga sebagai Ketua  Pembina IKWI Ambon, BPK PP Lease, pela Porto, Makariki dan sudara-sudara dari Hualoy. Gedung gereja Maranatha yang direnovasi diresmikan oleh Ketua Sinode GPM Pdt. DR. Jhon Ruhulesin, MSi, sedangkan gedung kantor Kepala Pemerintah Negeri Itawaka di resmikan oleh Bupati Maluku Tengah Hj. Ir. Abdullah Tuasikal, MSi, sementara Drs. M.J. Papilaja.MS yang dalam jabatannya sebagai Walikota Ambon mewakili anak-anak negeri di rantau dalam acara peletakan batu pertama Pusat Pelayanan Pendidikan masyarakat Itawaka, sedangkan Drs. Z. Wattimena, MSi yang juga ketua persekutuan warga Itawaka di Jayapura menyampaikan pengantar dan latar belakang dibangunnya Pusat Pelayanan Pendidikan Masyarakat Itawaka sebagai realisasi nota kesepakatan seluruh anak-anak negeri di rantau dengan Pemerintah Negeri Itawaka dan Majelis Jemaat GPM Itawaka yang dilaksanakan pada tanggal 29 Desember 2006 di Itawaka.      

Pdt Yang pernah mempin di jemaat GPM Itawaka

  1. Pdt. De Lima
  2. Pdt Kayadu
  3. Pdt Latumahina
  4. Pdt F. Lakburlawar
  5. Pdt P. Tizen
  6. Pdt Nahuwae
  7. Pdt. P. Leperteri
  8. Pdt. Manuhutu
  9. Pdt. Jakob. Ayal
  10. Pdt. Mayaut
  11. Pdt. A. J. Timisela
  12. Pdt. Jhon. Paais

Catatan : Pada masa penjajahan Jepang pelaksanaan Ibadah dilaksanakan di hutan selama 3 tahun dari tahun 1942-1945.
Sumber : IKWI Ambon

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar